6 Curhatan CEO Muda Dalam Memutuskan Jadi Pengusaha

6 Curhatan CEO Muda Dalam Memutuskan Jadi Pengusaha

Tren entrepreneur sedang hits di semua dunia, tak terkecuali Indonesia. Semangat wirausaha yang jadi semangat kaum muda guna berkarya dan memaksimalkan potensinya, membuat tidak sedikit orang tertarik membina bisnis sendiri semenjak dini. Banyak banget kaum muda yang berhasil jadi pengusaha, lantas memacu orang-orang lainnya untuk mengekor jejak mereka.

Pikiran guna menjadi pengusaha pun barangkali pernah terlintas di benakmu. Namun anda ragu, sebab tidak tahu mesti mulai dari mana. Mimpi memang ada, namun tentu anda harus menyiapkan visi dan tujuan yang jelas arahnya. Andai anda punya kenalan semua CEO ternama yang dapat membimbing dan mempersiapkanmu mengawali usaha. Ah, tidak boleh khawatir! Kali ini Judibolawin akan membalas rasa penasaranmu lewat kisah curhatan inspiratif dari semua CEO startup di Indonesia yang dapat kamu ikuti jejaknya.

6 Curhatan CEO Muda Dalam Memutuskan Jadi Pengusaha
6 Curhatan CEO Muda Dalam Memutuskan Jadi Pengusaha

1. Marshall Utoyo – Co-founder Fabelio.com: anda nggak dapat leha-leha bila mau jadi pengusaha

“Kalo emang lo inginkan leha-leha, ya cari perusahaan yang inginkan nerima lo leha-leha!”

Mungkin kamu beranggapan kalau menjadi pengusaha itu dapat hidup santai saja dan duduk manis menerima pendapatan dari jerih payah karyawanmu. Sayangnya, apa yang anda bayangkan tersebut justru salah besar. Untuk seorang pengusaha, haram hukumnya bila melulu bermalas-malas ria. Kamu punya tanggung jawab yang besar guna meyakinkan perusahaanmu berlangsung dengan baik. Tak melulu itu, kesejahteraan karyawan pun berada di pundakmu. Apalagi bila yang anda jalankan itu ialah perusahaan rintisan atau startup. Bisa jadi anda mengerjakan tidak sedikit hal, dari mulai kegiatan manajerial hingga teknis. Jauh dari kata leha-leha.

Karenanya, guna mewujudkan mimpimu membina bisnis sendiri, mulai hari ini kuatkan tekad dan mental lebih dulu. Agar ke depannya anda siap menghadapi segala kendala yang nantinya bakal menghadang.

2. Dari pengalaman Marshall Utoyo, bermitra dengan rekan bisa memudahkan tahapan saat membina bisnis

Masih tentang latihan yang dilansir dari CEO Fabilio.com – Marshall, yang menuliskan bahwa teman ialah salah satu kunci kesuksesanmu. Ketika anda merintis suatu usaha, anda perlu perlu partner guna mewujudkan ide-ide brilianmu. Misalnya, kamu hendak punya bisnis aksesoris. Kamu memang punya kemahiran mendesain aksesoris tersebut, namun sayangnya guna urusan e-commercekamu masih awam. Nah, di tahap tersebut kamu perlu teman yang memang udah khatam soal e-commerce.

Coba deh ajak temanmu tersebut untuk berpartner dengan kamu. Di samping lebih cair dalam berkomunikasi, berpartner dengan rekan sendiri pun meringankanmu dari sisi biaya. Karena telah teman, siapa tahu biaya-biaya mahal yang tidak perlu dapat ditekan serendah mungkin, bukan? Gimana, sudahkah anda merekrut teman-temanmu? 🙂

3. Andreas Senjaya – CEO Badr Interactive: jadi pengusaha tersebut bukan semata memperkaya diri, namun bagaimana dapat bermanfaat untuk orang lain

“Hidup dengan visi dan value yang kuat tersebut lebih unik jika dikomparasikan hidup dengan dikendalikan oleh hal-hal pelajaran atau duit dan destinasi jangka pendek. Tujuan jangka panjang tersebut yang lebih penting. Saya inginkan buktikan bahwa hidup dengan orientasi laksana ini, ternyata dapat sukses.”

Banyak orang yang tujuannya jadi pengusaha ialah biar dapat cepat kaya. Namun, urusan itu bertolak belakang dengan Andreas Senjaya yang berbisnis bukan guna uang semata. Andreas yang akrab disapa Jay ini punya destinasi lain dalam berbisnis, yakni dapat bermanfaat untuk orang. Jay menegakkan sebuah perusahaan software development yang di antara produk software yang didirikan ialah Urban Qurban – software berkurban secara online. Tujuan dari software ini ialah untuk mempermudah orang lain guna berkurban. Prinsip Jay guna berbisnis dengan value yang powerful tersebut pantas banget anda jadikan panutan.

4. Ivan Sandjaja dari Ciputra Foundation: inginkan kerja di mana aja, mesti punya pola pikir entrepreneur!

Dalam suatu wawancara, Ivan Sandjaja menuliskan bahwa di mana pun anda kerja mesti jadi entrepreneur. Maksud dari Ivan sebagai Director of Ciputra Incubator & Accelerator adalah siapa pun anda dan apa juga profesimu, anda harus menjadi entrepreneur. Sekalipun anda jadi pegawai kantoran, anda harus punya jiwa entrepreneurship, supaya skill-mu terus berkembang.

“Sebetulnya entrepreneur itu buat anda bukan semata-mata dengan kata lain orang mesti punya bisnis tersebut nggak. Orang inginkan kerja di pemerintah, inginkan kerja di yayasan tersebut semua mesti jadi entrepreneur. Karena entrepreneur itu ialah pola pikir. Seorang entrepreneur adalah orang yang terus menerus beraktivitas dan berinovasi.”

Jika ketika ini anda ngerasa nggak punya jiwa wirausaha, nggak usah khawatir, jiwa entrepreneurship atau kewirausahaan dapat kok diasah. Caranya ialah dengan terus mengupayakan dan berkarya di bidang yang anda geluti ketika ini.

5. CEO Traveloka – Ferry Unardi: buatlah sesuatu yang sekitar ini belum ditawarkan dan yang paling anda butuhkan!

Ide bisnis dapat kamu dapatkan dari mana saja. Bisa terinspirasi dari yang telah ada, atau tak tidak banyak yang hadir dari kecemasan akan sesuatu yang sekitar ini anda butuhkan namun tak kunjung anda dapatkan dengan maksimal. Seperti yang dirasakan oleh Ferry Unardi –CEO Traveloka. Ferry sering mengalami kendala setiap kali ia memesan tiket pesawat. Kesulitan yang dialaminya tersebut lantas ia ubah menjadi suatu peluang. Ferry yang kala tersebut masih kuliah di Harvard kemudian memutuskan berhenti demi membina bisnis di bidang reservasi tiket pesawat.

Sekarang, kamu dapat melihat Traveloka sebagai salah satu startup reservasi online tiket pesawat terbesar di tanah air. Kembali ke awal, semuanya bermula dari kecemasan yang kemudian diolah menjadi peluang. Nah, kecemasan apa yang anda alami ketika ini?

6. Kalau menggarap sesuatu dengan bahagia, kesuksesan pun dapat diraih tanpa beban, laksana yang dialami Arief Widhiyasa – CEO Agate Studio

Arief ialah contoh nyata bahwa sesuatu yang digarap dengan bahagia bakal mempunyai dampak yang baik. Memutuskan guna berhenti kuliah dari ITB, Arief bareng dengan teman-temannya membangun startup yang memproduksi game. Agate Studio yang bermarkas di Bandung, bermunculan dari kerinduan Arief dan kawan-kawan terhadap dunia game. Dengan bisnis ini, mereka fokus membuat game mereka sendiri.

Yang sangat mengharukan ialah ketika Agate berkembang dari tadinya 16 orang karyawan saja, sekarang sudah meningkat menjadi 60 orang. Untuk Arief, selama membina Agate, ia tidak begitu menikmati beban. Yup, masing-masing momennya ia nikmati.

Berdasarkan curhatan semua CEO di atas, ternyata menjadi pengusaha tersebut kamu mesti menyiapkan tidak sedikit hal. Nggak melulu modal uang, tapi pun mental. Gimana, berani?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *